Bojongloa Kidul Juara Umum MTQ Kota Bandung

Bandungrayanews.com / BANDUNG- Kecamatan Bojongloa Kidul menjadi juara umum Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kota Bandung. Kecamatan tersebut meraih 20 piala dari 25 golongan kategori yang dilombakan, dengan total poin 59.

Piala tersebut diserahkan langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Bandung sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Bandung, Ema Sumarna kepada Camat Bojongloa Kidul Aniya Rachmawati Soerya Poetri pada penutupan MTQ ke-49 tingkat Kota Bandung di Masjid Al-Ukhuwah, Jumat Malam (22/11/2019).

Aniya mengaku bersyukur tahun ini wilayah yang dipimpinnya berhasil meraih juara, setelah tiga tahun berturut-turut hanya menjadi runner up. Menurutnya, hal itu berkat kolaborasi seluruh pihak sehingga prestasi tersebut bisa diraih.

“Bagi kami yang penting komunikasi dan koordinasi. Karena ini melibatkan semua pihak, baik MUI, Kantor Urusan Agama, dan pesantren-pesantren yang ada di Bojongloa Kidul,” ungkap Aniya usai menerima trofi.

Selain itu, pembinaan intensif selama dua bulan juga menjadi salah satu usaha yang dilakukan. Dari 32 peserta yang dikirimkan, ada 20 piala yang berhasil dibawa pulang.

Selain Bojongloa Kidul, berikut 10 besar kecamatan yang paling banyak mendapatkan poin:

1. Bojongloa Kidul, jumlah poin 59
2. Mandalajati, jumlah poin 54
3. Bandung Kulon, jumlah poin 29
4. Bojongloa Kaler, jumlah poin 26
5. Cibeunying Kidul, jumlah poin 20
6. Babakan Ciparay, jumlah poin 19
7. Cinambo dan Lengkong, jumlah poin 16
8. Batununggal dan Cicendo, jumlah poin 14
9. Bandung Kidul dan Ujungberung, jumlah poin 13
10. Astanaanyar dan Coblong, jumlah poin 12

Berharap Juara kedelapan Kalinya
Sementara itu, Ema Sumarna berharap ajang ini menjadi pembinaan yang baik bagi para kafilah agar Kota Bandung kembali mendapatkan tempat terbaik pada MTQ tingkat Jawa Barat tahun 2020 mendatang. Ia mengandalkan pola pembinaan yang sudah sistematis dan berjenjang sejak dari kelurahan. Hal itu menunjukkan komitmen pemerintah kota untuk memfasilitasi potensi wilayah dalam kejuaraan ini.

“Saya punya optimisme yang cukup rasional. Karena pola pembinaan di Kota Bandung menurut saya cukup baik. Pola pembinaan tidak haya dikosentrasikan untuk kejuaraan tetapi sudah menjadi program reguler,” ujar Ema.

Di sisi lain, ajang ini juga menjadi fragmen dalam mewujudkan Bandung Agamis sebagaimana yang tercantum dalam visi Kota Bandung. Hal serupa juga termaktub dalam misi Kota Bandung dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang berkualitas.

“Kota agamis menjadi bagian dari kontribusi itu, walaupun kita tidak pernah mengkalim agamis itu identik dengan Islami, tetapi bagaimana Bandung ini menjadi rumah bersama bagi para penganut agama yang diakui oleh negara yang ada di Kota Bandung,” tuturnya.

(Eri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *