20th Januari 2021

Ridwan Kamil Gelar Pertemuan dengan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia

Bandungrayanews.com/ KOTA BANDUNG –Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menggelar pertemuan dengan Duta Besar (Dubes) Malaysia untuk Republik Indonesia (RI) Datuk Zainal Abidin Bakar di Herbal House, Kota Bandung, Minggu (22/11/20).

Dalam pertemuan tersebut, Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– memaparkan peluang investasi di Jabar, khususnya sektor industri. Salah satunya adalah Rebana Metropolitan.

“Hari ini saya berbahagia kedatangan Duta Besar Besar Malaysia untuk Indonesia beserta rombongan. Beliau (Dubes Malaysia), karena COVID-19, baru pertama kali datang ke Bandung, Jawa Barat,” kata Kang Emil usai pertemuan.

“Saya meceritakan oportunity economy di bidang industri. Ada Rebana Metropolitan yang bisa ditawarkan, kemudian ekonomi pertanian, ekonomi pariwisata yang luar biasa, dan lain-lain,” imbuhnya.

Menurut Kang Emil, sejumlah investor asal Malaysia mengikuti West Java Investment Summit (WJIS) yang digelar Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jabar beberapa waktu lalu.

Kang Emil berharap akan ada tindak lanjut berupa kerja sama di bidang ekonomi, baik jangka pendek, menengah, dan panjang, setelah pertemuan dengan Datuk Zainal Abidin Bakar.

“Kami berharap ada follow-up yang short term, mid term, dan ada juga yang long term. Dan kemarin kami menyelenggarakan West Java Investment Summit, itu sudah ada lima pengusaha Malaysia yang hadir,” ucapnya.

Dalam WJIS 2020, kata Kang Emil, investor Malaysia berminat menanamkan modal di bidang pariwisata dan energi.

“Kemarin (di WJIS 2020) mayoritas di bidang waste to energy. Kemudian di pariwisata,” katanya.

Kang Emil menyatakan, hubungan ekonomi Malaysia dengan Jabar sangat baik. Hal itu terlihat dari 251 proyek invetasi Malaysia di Jabar hingga triwulan III-2020.

“Mudah-mudahan tahun-tahun ke depan bisa lebih meningkat. Dan tentunya Jawa Barat akan jadi gate way untuk ekonomi Indonesia-Malaysia,” katanya.

Dubes Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Bakar mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti pertemuan dengan menggelar webinar bersama investor dan pengusaha asal Malaysia. Kang Emil pun bakal menjadi pembicara dalam webinar tersebut.

Nantinya, kata Datuk Zainal, investor dan pengusaha asal Malaysia dapat menggali informasi mengenai peluang investasi di Jabar secara langsung kepada Kang Emil.

“Jadi, saya harap selepas (pertemuan Gubernur Jabar-Dubes Malaysia untuk RI) ini kami akan membuat follow-up apakah perkara-perkara yang mungkin boleh diwujudkan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia,” kata Datuk Zainal.

“Selepas ini salah satu caranya ialah mengadakan webinar oleh kedutaan (Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta) dengan menjemput Pak Gubernur untuk menerangkan sendiri dengan selected kepada syarikat-syarikat (para pengusaha) Malaysia secara webinar,” imbuhnya.

Datuk Zainal mengatakan, pihaknya sengaja melakukan lawatan ke Jabar agar bisa mendengar langsung dari Kang Emil tentang potensi ekonomi yang dimiliki Jabar dan investasi yang bisa dilakukan pengusaha Malaysia di Jabar.

“Tujuan saya bersama rekan-rekan saya dari Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta mengadakan lawatan kerja ke Jawa Barat untuk bertemu dengan Pak Gubernur. Pertama, untuk bersilarutahmi, sebab ini lawatan saya yang pertama ke Bandung,” ucap Datuk Zainal.

“Kedua, adalah mendengar sendiri peluang-peluang ekonomi dan investasi dari Pak Gubernur. Kita membawa syarikat-syarikat (perusahaan) Malaysia untuk datang membuat investasi dan perdagangan antara Malaysia dan Indonesia,” tambahnya.

Setelah mendengar langsung paparan dari Kang Emil, Datuk Zainal pun mengakui bahwa Jabar memang memiliki potensi ekonomi dan peluang investasi yang sangat baik. Dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari 60 menit tersebut, kata Datuk, pihaknya membahas banyak hal, di antaranya peluang investasi di bidang pengolahan limbah dan pariwisata di Jabar.

“Jadi, anggapan kami benar bahwa Jawa Barat ini mempunyai potensi ekonomi yang sangat baik untuk investasi dan perdagangan oleh syarikat-syarikat Malaysia. Jadi, dengan kami datang sendiri, mendengar sendiri, kita mengetahui dengan lebih dekat apakah peluang-peluang investasi,” ucapnya.

Datuk Zainal pun menambahkan, setelah dua hari berada di Jabar dirinya merasakan bahwa Jabar khususnya Bandung memiliki pesona pariwisata yang memikat. Ia sangat mengagumi keindahan pesona alam Gunung Tangkuban Perahu.

“Ini bagi saya lawatan pertama ke Bandung. Jadi, kalau Bandung ini pada saya cuacanya bagus, saya panggil mediteranian weather, udaranya bagus, kemudian pariwisata dalam konteks ecotourism bagus,” ucapnya.

“Tadi saya peluang ke Tangkuban Parahu, hebat itu. Peluang melihat sendiri gunung berapi itu, bukan melihat di tempat-tempat lain. Jadi, ini salah satu tarikan yang begitu baik untuk Bandung,” imbuhnya.(De) *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed

*Ridwan Kamil Minta Pejabat Publik Penyintas COVID-19 Donor Plasma Darah* _Minat Masyarakat Rendah, Permintaan Tinggi_ *KOTA BANDUNG* – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendorong para kepala daerah dan pejabat publik penyintas COVID-19 mendonorkan plasma darahnya untuk pasien positif yang masih dirawat di rumah sakit. Saat ini minat penyintas COVID-19 menyumbangkan plasma darahnya tergolong rendah. PMI mencatat jumlah calon pendonor plasma darah hanya 5-10 persen dari total jumlah pasien yang sembuh secara nasional. Hal ini yang kemudian membuat Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin mencanangkan Gerakan Nasional Pendonor Plasma Kovalesen secara daring bersama Palang Merah Indonesia dan rumah sakit seluruh Indonesia, Senin (18/1/2021) “Ada gerakan donor plasma konvalesen. Saya imbau kepada ribuan orang yang sembuh di Jabar, kami dengan sangat memohon menyumbangkan plasma darahnya untuk digunakan bagi penyembuhan pasien yang masih berjuang karena COVID-19. Mudah-mudahan kampanye donor plasma konvalesen ini bisa berhasil di Jabar,” ujarnya di Makodam III/Siliwangi, Kota Bandung, Senin (18/1/2021). Diketahui beberapa kepala daerah yang terkonfirmasi positif COVID-19 seperti Wali Kota Bogor, Wakil Wali Kota Bandung, Bupati Karawang, Bupati Bogor, Wali Kota Bandung, dan terbaru Bupati Bandung Barat. Sekda Kota Bogor pun diketahui terkonfirmasi, dan masih banyak pejabat publik lainnya setingkat eselon II. “Bagi kepala daerah atau pejabat publik yang memenuhi syarat, seperti tidak ada komorbid, belum pernah hamil, dan positifnya bergejala, saya dorong untuk mendonorkan plasma darahnya,” ujarnya di Kota Bandung, Sabtu (16/1/2021). “Rakyat itu kan bagaimana pemimpin. Kalau pemimpinnya kasih contoh baik, insyaallah masyarakat pun akan ikut. Dulu pas uji klinis peminatnya sedikit, tapi setelah saya dan forkopimda daftar, relawan malah membeludak. Kemarin vaksin, pejabat publik pun memulainya agar masyarakat juga ikut,” kata Ridwan Kamil. Di saat pandemi, menurut Gubernur, pemimpin harus menanamkan empati dan solidaritas di masyarakat. “Gimana caranya? Jadilah contoh, jadilah panutan. Jangan justru memunculkan preseden buruk,” ucapnya. Setelah kepala daerah menjadi pendonor plasma, paling tidak langkah ini akan diikuti pejabat publik di bawahnya seperti sekda, kepala dinas serta pejabat eselon lainnya. “Harapannya seluruh ASN penyintas COVID-19 akan mengikuti,” ucapnya. Ketua Komunitas Pendonor Plasma Darah dr Ariani menjelaskan, terapi plasma darah dapat menjadi alternatif penyembuhan terbaik bagi pasien positif, di tengah belum ditemukannya obat COVID-19 dan vaksinasi yang saat ini baru saja mulai. Terapi plasma darah dipakai dokter di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang. Berdasarkan penelitian, plasma darah dapat meningkatkan angka kesempuan pasien positif dengan derajat berat 95 persen sembuh, derajat kritis 59 persen sembuh. “Intinya semuanya masih dalam taraf penelitian, tapi menjanjikan di saat belum ada obat pasti,” kata Ariani. Penjelasan Ariani sekaligus membantah keraguan dari sebagian kalangan dokter yang mengatakan terapi plasma darah tidak efektif menolong pasien positif, bahkan sudah ditinggalkan negara maju seperti Inggris. Pencanangan Gerakan Nasional Pendonor Plasma Kovalesen oleh Wapres menunjukkan terapi ini efektif dan menjadi pilihan saat ini. “Jika memang tidak efektif sepertinya mustahil pemerintah lakukan ini. Terapi plasma kovalesen memang dalam taraf uji klinis di seluruh negara di dunia,” jelas Ariani. Menurut Ariani, saat ini minat penyintas COVID-19 untuk mendonorkan plasma darahnya masih rendah, sementara permintaan sangat tinggi. Sejak berdiri 25 Desember 2020, Komunitas Pendonor Plasma sudah memfasilitasi 241 penyintas. Namun saat ini permintaan plasma darah terus meningkat, sementara tidak semua PMI melayani donor plasma darah. Jika ada, tidak membuka pendaftaran secara sukarela tapi berdasarkan permintaan dari rumah sakit. Jika tidak ada permintaan, maka PMI tidak akan mencari pendonor. Di satu sisi, stok plasma darah antardaerah tidak merata. “Padahal sebetulnya antar-PMI dapat saling mengirim plasma darah jika ada kebutuhan,” ungkapnya. Menurut Ariani, minat penyintas COVID-19 mendonorkan plasma darahnya rendah disebabkan beberapa hal. “Pertama karena mereka tidak tahu. Kedua, ada yang masih ogah untuk ke PMI. Kita tidak bisa memaksa, donor sifatnya hanya sukarela, apalagi kita kasih nomor hape penyintas tanpa izin,” katanya. Ketiga, stigma pun menjadi salah satu pertimbangan. “Karena ada stigma ini penyintas banyak yang merasa malu atau tidak mau ditampilkan jika mendaftar (jadi pendonor plasma), nanti takut dikucilkan,” katanya. Rendahnya donor plasma pun dapat disebabkan banyak penyintas yang sebetulnya sudah bersedia jadi pendonor, tapi setelah dites kesehatan ternyata tidak memenuhi syarat. Contohnya, saat positif yang bersangkutan terkategori orang tanpa gejala, atau perempuan yang pernah hamil. “Perempuan yang pernah hamil itu punya antigen HLA dan HNA, kalau plasma darahnya didonorkan akan terjadi penolakan dari penerima,” jelas Ariani. Ariani menyambut baik ide bahwa kepala daerah dan pejabat publik penyintas COVID-19, mau mendonorkan plasma darahnya. “Baik banget itu. Pejabat publik bisa jadi influencer,” ungkapnya. *Solidaritas Penyintas* Wildan (37) warga Bojongsoang, Kabupaten Bandung merasa terpanggil untuk mendonorkan plasma darahnya. Ia adalah seorang penyintas COVID-19. Setelah isolasi selama 14 hari di rumahnya dengan gejala mual dan sakit badan, pada 23 Desember 2020 karyawan swasta dinyatakan sehat oleh dokter puskesmas. Kini dia sudah beraktivitas kembali seperti biasa. Namun pengumuman plasma darah yang dia lihat di Instagram milik PMI Kota Bandung membuat hatinya tergerak. “Saya sudah terdaftar sebagai pendonor plasma darah. Sebelumnya ngisi dulu formulir online, ditanyain profil dan riwayat COVID-19, kapan positif kapan sembuh dan macam- macam. Sekarang tinggal nunggu wawancara, jadi diseleksi lagi,” katanya. Wildan sudah lebih dari 30 kali mendonorkan darahnya jadi sudah terbiasa dengan jarum besar. Tapi untuk donor plasma adalah pengalaman pertamanya. “Jadi saya belum tahu akan seperti apa pengambilan darahnya nanti. Sama atau beda dengan donor biasa,” katanya. Dia berharap, kadar antibodi dalam tubuhnya tergolong berlimpah sehingga dapat membantu pasien positif yang bergejala berat. “Saya termasuk beruntung karena gejalanya ringan. Tapi banyak pasien dengan gejala berat sedang berjuang di ruang perawatan. Saya harap saya bisa jadi donor plasma dan dapat membantu orang lain,” harapnya. Dengan banyaknya kepala daerah dan pejabat publik penyintas COVID-19, menurutnya akan sangat baik jika mereka mau mendonorkan plasma darahnya agar makin banyak orang tahu terapi plasma darah. *GRAFIS* *TERAPI PLASMA DARAH* *Apa itu?* Donor plasma darah dari penyintas COVID-19 ke pasien positif untuk membantu kesembuhan. *Manfaat* Mengurangi risiko kematian pasien Mempercepat penyembuhan pasien Proses cepat bagi pendonor. *Legalitas* WHO dan Food Drugs Administration (BPOM-nya Amerika Serikat). *Syarat Pasien* Bergejala sedang dan berat, ringan tak boleh. *Syarat Pendonor* Umur 18-60 tahun. Laki- laki dan perempuan yang belum pernah hamil. Bera badan 55 kg. Tak punya penyakit penyerta (diabetes, jantung, hipertensi tak terkendali, sipilis, HIV/AIDS, gagal ginjal, kanker, etc). Pernah terdiagnosa COVID-19 dengan gejala (mual, muntah, flu, batuk, bersin, sesak napas, mata merah). Melampirkan hasil swab positif PCR atau rapid antigen. Sudah bebas gejala minimal 14 hari setelah isolasi. Harus dilakukan dalam jangka waktu maksimal tiga bulan setelah negatif. *Prosedur* Telepon kantor PMI yang melayani plasma darah Isi formulir online Tunggu telepon dari petugas Wawancara dan skrining kesehatan di kantor PMI Pengambilan plasma darah *PMI yang buka donor plasma darah* PMI Bandung PMI Kab Bekasi PMI Kab Cirebon PMI Kab Bogor *HUMAS JABAR* *Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jabar* *Setiaji*